Home Utama Obrolan Ikan Asin, Dari Prasasti Sampai Hidangan Upacara

Obrolan Ikan Asin, Dari Prasasti Sampai Hidangan Upacara

557
SHARE
Pengolahan Ikan Asin dengan memanfaatkan terik matahari Foto : Matakota

Viral | beritabatam.co : Ikan asin yang dimaksud disini, tentu ikan asin yang sudah turun menurun menjadi teman makan nasi anak anak nusantara. Dan tak ada hubungannya dengan kasus yang rame belakangan ini.

Siapa yang tak kenal dengan kelezatan dan citarasa ikan asin. Meski ada yang menyebut sebagai makanan kelas menengah kebawah, tapi tak dipungkiri ikan asin selalu punya penggemar karena aromanya yang khas.

Cara pengolahan ikan asin pun sangat praktis, dengan hanya dibakar, digoreng atau di campur bersama bahan lain. Ikan asin siap dinikmati, dengan nasi panas tentunya.

Tapi ternyata, sejarah ikan asin tidaklah sesederhana bentuk dan tampilannya.

Berikut beberapa poin yang membuktikan ‘ikan berkepala dua’ itu memang sudah melegenda dan menjadi saksi sejarah rakyat Indonesia.

Bermula dari Abad ke VIII masehi

Dihimpun Kompas.com (07/03/2016)  orang-orang Indonesia utamanya di Jawa sudah menggemari ikan asin sejak abad ke VIII masehi.

Titi Surti Nastiti, seorang Arkeolog Indonesia dalam bukunya, menjelaskan sejarah ikan asin terkait aktivitas ekonomi dan sosial masyakarat Mataram Kuno.

Buku Titi yang berjudul Pasar di Jawa: Masa Mataram Kuno Abad VII-XI Masehi mengungkap, bahwa masyarakat Mataram Kuno menjadikan ikan asin menjadi salah satu komoditi yang kerap diperdagangkan di pasar-pasar di Jawa sejak 13 abad silam.

Terdapat dalam dua prasasti

Titi menjelaskan sejarah ikan asin dari dua prasasti.

Prasasti pertama adalah Prasasti Pangumulan A yang berangka tahun 824 saka atau 902 Masehi.

Prasasti kedua adalah Prasasti Rukam yang berangka tahun 829 saka atau 907 Masehi. Ikan asin pada masa Itu disebut grih atau dendain Tulisan Titi menyebut, kedua prasasti menjelaskan istilah ikan asin yang dikeringkan disebut grih atau dendain. Saat ini dalam bahasa Jawa ikan asin disebut gereh sedangkan ikan yang dikeringkan disebut dendeng.

Dulu digunakan sebagai hidangan upacara

Titi menyebut, dalam Prasasti Rukam grih atau dendain digunakan sebagai hidangan yang disajikan dalam upacara penetapan sima (tanah suci).

Dari bukti sejarah itu, ikan asin rupanya tak hanya jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari, tetapi juga jadi hidangan yang disajikan dalam upacara-upacara besar.

Sering diplesetkan sebagai ikan berkepala dua

Ini lebih dikarenakan tampilan ikan asin yang sebelum diolah, biasanya dibelah menjadi dua bagian meski tetap menyatu pada bagian perut ikan. Inilah yang menjadikan bentuknya menjadi ikan berekor satu tapi berkepala dua.

Nah itu dia, sedikit sejarah tentang ikan asin. Walaupun ada yang sering mencibirnya sebagai makanan tak berkelas. Sejarah membuktikan, ikan asin tetap punya penggemar dan tetap bertahan ditengah makanan olahan beku yang semakin marak saat ini. (Sumber dan NR Aida)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here