Beranda Opini Memaknai dan Meneladani Qurban di Hari Raya Idul Adha

Memaknai dan Meneladani Qurban di Hari Raya Idul Adha

231
BERBAGI
Bahzomi Fuadi, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibnu Sina Batam Foto : Istimewa

Opini | beritabatam.co : Ibrahim, disebut Abraham dalam Yahudi dan Kristen, adalah tokoh dalam Al-Qur’an, Alkitab, dan Tanakh (Taurat), dihormati dan menjadi sosok teladan dalam agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Ketiga agama tersebut yang memiliki keterikatan dengan sosok Ibrahim kerap disebut dengan agama Abrahamik.

 Selain sebagai Nabi dan Rasul Gelar yang disandangnya adalah

Ulul Azmi, ‘alaihis-salam (keselamatan atasnya), Khalilullah (kesayangan Allah) dan

Iklan

Disebut juga Avraham Avinu (bapak kami Abraham).

Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Berkurban

Syariat kurban pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim, berdasarkan firman Allah: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (QS. as-Shafat: 107).

Secara istilah kurban berarti mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban (seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing) pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13).

Perintah berkurban ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Maka laksanakan shalat karenaTuhan-mu dan berkurbanlah” (QS. al Kautsar: 2).

Berkurban sebagai kenangan untuk mengingat kecintaan Allah kepada Nabi Ibrahim Alaihi Salam (QS. ash-Shafat: 102). dan berkurban sebagai misi kepedulian kepadamu sesama (HR. Muslim).

Idul Adha sejatinya merayakan kemenangan spiritual setelah sukses dengan makrifatullah (mengenal Allah) dalam puncak rangkaian ibadah Haji pada peristiwa wukuf di Arafah yang berarti manusia berhenti pada titik ia mengenal dirinya dan mengenal penciptanya, Allah .

Sehingga semangat berkurban ini adalah semangat berjihad yang tak terkalahkan dengan harta, tahta, wanita dan anak tercinta yang dapat mengantarkan pada cinta yang otentik dan kedekatan yang paling tinggi di hadapan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya yang lain :

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”. (QS. an-Nisa: 125).

Kurban pada hakikatnya bukan hanya menyembelih hewan saja dan dagingnya kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Akan tetapi secara filosofis kurban bisa berdimensi luas. 

Pengorbanan adalah sebagai sebuah konsekuensi logis dari keyakinan yang diperjuangkan untuk mencapai kesalehan, baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial. Hal ini tampak dari kesanggupan Nabi Ibrahim as menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail, sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran yang kita kutip di atas.

Pengorbanan Ibrahim as bukan semata-mata didorong oleh perasaan taat dan setia yang tanpa alasan, tetapi meyakini bahwa perintah Allah Swt itu harus dipatuhi. Bahkan, Allah Taala memberi perintah seperti itu sebagai peringatan kepada umat yang akan datang bahwa adakah mereka sanggup mengorbankan diri, keluarga dan harta benda yang disayangi demi menegakkan perintah Allah Swt.

Ibrahim as mengajarkan banyak hal kepada kita, makna pengorbanan, makna ketulusan keimanan, makna kecintaan, dan lain sebagainya.

Makna kurban :

Perintah Allah Swt kepada Nabi Ibrahim as agar menyembelih putranya hanya bisa dihadapi dengan penuh kesabaran oleh orang-orang yang memiliki keimanan yang sejati saja. Dan keluarga Nabi Ibrahim as adalah simbol kesejatian iman tersebut. Sang ayah yang mendapatkan perintah dengan penuh keyakinannya melaksanakan perintah Allah yang amat berat tersebut. Sang isteri, menerima perintah tersebut dengan pasrah dalam kesabaran, sedangkan objek dari perintah tersebut, sang anak yaitu Ismail as, menerima dengan tulus perintah tersebut.

Pendek kata, tidak ada masalah yang rumit kecuali dengan cara berkurban di jalan Allah Swt. Sebab dengan berkurban dan semata-mata mencari ridha Allah Swt, penyakit individualisme, kesombongan, keserakahan, arogansi, kedengkian, serta penyakit mental dan sosial lainnya itu bisa diatasi. Dari sinilah generasi terbaik benar-benar mampu membangun suatu masyarakat yang taat kepada Allah Swt dengan kehidupan yang penuh perdamaian, penuh rasa cinta dan peduli sesama.

Ironi memang saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan individual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Hal ini merupakan sebuah fenomena yang menyedihkan, Idul Adha Mubarak, Bukan daging atau darah hewan kurban, yang mencapai Allah Tetapi kesalehan sebagai tujuan sesungguhnya. 

Hari Raya Kurban  sebagai momentum untuk mengaktualisasikan makna pengorbanan Nabi Ibrahim as dalam kehidupan setiap muslim, sehingga terwujudlah dua kesalehan yakni kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kesalehan individual berarti dengan berkurban kita telah melaksanakan perintah Allah Swt yang bersifat transedental. Sedangkan kesalehan sosial terefleksikan secara jelas dalam pembagian daging kurban.

Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyariatkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal keimanan kepada Allah Swt, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap peduli, dan saling menyayangi terhadap sesama.

contoh atau teladan yg dapat kita ambil dari kisah nabi ibrahim a.s.

-Ketaatan nya dalam melakukan perintah allah;

-Pemimpin yg baik;

-Selalu bersyukur atas nikmat Allah.

-Setiap cobaan dijalaninya dengan sabar dan tabah.

-Merupakan kekasih allah atau (orang yg paling patuh dan tunduk terhadap perintah allah).

Idul Adha mengingatkan kita kepada pribadi agung Nabi Ibrahim AS dan keluarganya sebagai teladan bagi umat manusia. Keluarga yang taat, bersyukur dan sabar. Keluarga yang harmonis dan rukun. Keluarga yang melahirkan generasi yang saleh. Keluarga yang mampu membangun peradaban manusia berbasis tauhid dan syariah yang agung.

Hari Raya Idul Adha 2020 ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena tahun ini masyarakat merayakan Idul Adha ditengah pandemi Covid-19. 

Tradisi yang biasanya dilakukan ketika merayakan Hari Raya adalah saling mengucapkan selamat hari raya sesama keluarga, teman, maupun kerabat dekat untuk mempererat tali silahturahmi.

Semoga cahaya bulan sabit menjadi panduan kita menuju masa depan yang tercerahkan dan kehidupan spiritual. 

*) Bahzomi Fuadi, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibnu Sina Batam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here