Beranda Utama (Jum’at Mubarok) Sultan dan Alim yang Zuhud

(Jum’at Mubarok) Sultan dan Alim yang Zuhud

BERBAGI
Ilustrasi Sultan Menasehati Seorang Alim.jpg

OLEH HASANUL RIZQA

Pada suatu musim haji, Sultan Harun al-Rasyid menunaikan rukun Islam kelima itu dengan dikawal para prajurit terbaiknya. Saat sedang thawaf, tiba-tiba raja Dinasti Abbasiyah itu didahului oleh seorang pemuda kampung.

Remaja Arab badui itu berpenampilan tidak seperti warga merdeka, tetapi lebih menyerupai budak belian. Mulanya, Sultan Harun al-Rasyid tidak begitu peduli akan tindakan pemuda tersebut. Apalagi, sejumlah petugas dengan sigap berupaya mengusir si badui.

Namun, lelaki yang berwajah kusam itu dengan cepat menampik dorongan mereka. Malahan, ia mendekat ke hadapan khalifah Abbasiyah ini sembari membacakan firman Allah, yakni Alquran surah al-Hajj ayat 25.

“Sungguh, orang-orang kafir dan yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan dari Masjidil Haram yang telah Kami jadikan terbuka untuk semua manusia, baik yang bermukim di sana maupun yang datang dari luar dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih,” demikian terjemahan ayat tersebut.

Mendengar itu, Harun al-Rasyid seketika melarang para pengawal. Mereka tidak boleh lagi menghardik si badui. Untuk sesaat, amirul mukminin ini merasa masalah telah selesai. Ia pun beranjak ke lokasi tempat Hajar Aswad berada.

Namun, pemuda miskin itu lagi-lagi menyerobot raja Abbasiyah ini. Sang sultan coba bersabar, sehingga menyingkir ke arah Hijir Ismail untuk mendirikan shalat.

Akan tetapi, secepat kilat lelaki tadi mendahului Raja Harun. Perbuatannya tentu menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri sang khalifah. Penguasa negeri Abbasiyah ini lantas beranjak meninggalkan Masjidil Haram dengan diikuti para pengiringnya.

Bagaimanapun, ia masih heran dengan sosok yang mengganggunya itu. Siapa pula seorang warga biasa, apalagi berpenampilan bak hamba sahaya, berani merecoki ibadah seorang raja?

Tidak ingin berlama-lama dengan rasa penasaran, Harun al-Rasyid lantas menyuruh beberapa prajurit untuk memanggil si badui tadi ke dalam kemahnya.

Para prajurit ini akhirnya menemukan sosok yang dicari. Mereka terkejut karena si pemuda dusun itu justru menyuruh agar Sultan Harun sendiri yang mendatanginya.

“Dia yang perlu, maka dia yang datang kepadaku,” katanya tanpa menunjukkan rasa takut sebersit pun. Mengetahui perangai remaja itu, sang sultan pun terpaksa mengalah. Rasanya, baru kali ini seorang khalifah Abbasiyah tunduk di bawah aturan rakyatnya sendiri.

Akhirnya, sang amirul mukminin bertatap muka dengan warga yang sedari tadi mengusiknya itu. “Wahai anak muda! Saya ingin bertanya tentang hal-hal yang fardhu kepadamu. Kalau bisa menjawabnya, sungguh engkau orang yang hebat. Jika tidak, engkau tidak lebih dari seorang yang lemah akan ilmu sehingga merasa bisa berbuat seenaknya,” ujar Harun al-Rasyid.

Tak disangka, orang badui itu justru balik bertanya, “Engkau bertanya tentang fardhu yang mana? Yang satu? Lima? Tujuh belas? Tiga puluh empat? Sembilan puluh empat? Satu fardhu yang seumur hidup? Satu fardhu dari yang 12? Satu fardhu dari 40? Atau, lima fardhu dari yang 200?”

Sontak saja Sultan Harun dan seluruh pengawal dalam kemahnya tertawa. Mereka mengira, pemuda itu sedang berujar omong kosong belaka untuk berkilah dari pertanyaan awal yang diajukan.

Di tengah gelak tawa mereka, dengan tenang lelaki dusun itu menerangkan, “Wahai Harun! Yang saya maksud ialah satu fardhu, yakni agama Islam. Lima fardhu adalah shalat lima waktu. Tujuh belas adalah rakaat shalat fardhu. Tiga puluh empat adalah sujud dalam shalat fardhu. Sembilan puluh empat adalah takbir, tahmid, tasmi’, tasbih, dan istighfar. Satu fardhu seumur hidup adalah haji. Satu dari 12 adalah bulan Ramadhan. Satu dari 40 adalah zakat emas dan perak dari 40 dinar. Lima dari 200 adalah 5 dirham emas dari 200 dirham.”

Wajah Harun al-Rasyid memerah lantaran malu. Untuk mencairkan suasana, ia lalu mempersilakan lelaki tersebut untuk mengajukan sebuah pertanyaan.

“Baiklah, bagaimana penjelasan dari kasus, yakni seorang pria yang haram melihat wanita di waktu zhuhur, ketika waktu ashar halal melihatnya, dan haram lagi ketika masuk waktu maghrib, lantas halal lagi ketika waktu isya’, akan tetapi lagi-lagi haram ketika masuk waktu subuh, dan akhirnya kembali halal di waktu zhuhur?”

Sultan Harun terdiam. Ia sungguh bingung dengan jawaban dari teka-teki itu.

“Engkau adalah seorang raja. Seharusnya bisa menjawab pertanyaan dari seorang badui, apalagi yang ditanyakannya itu sebuah perkara sederhana,” kata lelaki itu, seperti bisa membaca hati pemimpinnya.

“Semoga Allah meninggikan derajatmu dengan ilmu. Saya tidak mengetahui jawabannya,” kata sang sultan.

“Saya mau menjelaskannya untukmu, asalkan engkau berjanji untuk selalu menyayangi fakir miskin dan mengasihi orang tua.”

“Baiklah,” tegas Harun.

“Pria tadi haram melihat wanita yang bukan mahramnya pada waktu zhuhur. Masuk waktu Ashar, ia menikahinya sehingga halal untuk melihatnya. Saat maghrib, ia menceraikannya sehingga wanita itu menjadi haram lagi baginya. Masuk waktu isya, ia rujuk sehingga perempuan ini menjadi halal lagi baginya. Namun, saat subuh tiba, ia menjatuhkan talak dhihar kepadanya sehingga wanita ini jadi haram lagi. Akan tetapi, saat zuhur datang, ia membayar denda sehingga wanita tadi menjadi halal lagi baginya,” papar si badui.

Setelah itu, Harun mempersilakannya pulang. Bagaimanapun, dirinya tetap penasaran akan identitas orang alim nan zuhud yang jadi lawan bicaranya tadi. Belakangan diketahuinya, dia adalah Sayyid Musa ar-Radhi, seorang keturunan Nabi SAW dari jalur Husein bin Ali.

Tulisan Asli Baca disini!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here