Beranda Utama (Jumat Mubarok) Mengenal Karakter Asli Kehidupan Dunia

(Jumat Mubarok) Mengenal Karakter Asli Kehidupan Dunia

BERBAGI
Foto : Istimewa

Jumat Mubarok | beritabatam.co : Manusia yang hidup di dunia akan mengalami kesulitan dan kemudahan, serta kesedihan dan kebahagiaan.

Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam menjelaskan tentang karakter asli dunia menurut pandangannya. Dalam kitabnya tersebut, Syekh Ibnu Athaillah mengatakan:

لا تَسْتَغْرِبْ وُقوعَ الأَكْدارِ ما دُمْتَ في هذهِ الدّارِ. فإنَّها ما أَبْرَزَتْ إلّا ما هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِها وَواجِبُ نَعْتِها “Jangan engkau merasa heran atas terjadinya kesulitan selama engkau berada di dunia ini. Sebab memang begitulah yang patut terjadi dan yang menjadi karakter asli dunia.”

Iklan

Mengutip terjemah Al-Hikam karya Ustadz Bahreisy, dia menjelaskan yang dimaksud Syekh Ibnu Athaillah dengan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, perkataan Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Junaidi Al-Baghdady, dan Ja’far Asshaddiq.

Rasulullah SAW berkata kepada Abdullah bin Abbas, “Jika engkau dapat beramal karena Allah dengan rela dan keyakinan, maka laksanakanlah, jika tidak dapat maka bersabarlah. Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesukaran itu suatu keuntungan yang besar.”

Umar bin Khattab berkata kepada orang yang dinasihatinya, “Jika engkau sabar, maka hukum (ketentuan) Allah tetap berjalan dan engkau mendapat pahala. Apabila engkau tidak sabar, ketentuan Allah tetap berlaku maka engkau mendapatkan dosa.”

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Dunia adalah kerisauan dan duka cita. Maka bila terdapat kesenangan di dalamnya berarti keuntungannya.”

Junaidi Al-Baghdady mengatakan, “Aku tidak merasa keji terhadap apa yang menimpa diriku. Sebab aku telah berpendirian bahwa dunia ini tempat kerisauan dan ujian. Alam ini diliputi oleh bencana, maka sewajarnya alam menyambut aku dengan kesukaran dan kerisauan. Apabila alam menyambut aku dengan kesenangan maka itu berarti suatu karunia dan kelebihan.”

Ja’far Asshaddiq mengatakan, “Siapa yang meminta sesuatu yang tidak diberikan oleh Allah, sama dengan melelahkan dirinya sendiri.” Ketika ditanya meminta apa itu? Ja’far Asshaddiq menjawab, “Kesenangan di dunia.”

Sumber : Khazanah Republika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here