Beranda Utama (Jum’at Mubarok) Kesejatian Diri

(Jum’at Mubarok) Kesejatian Diri

BERBAGI
Foto; Det

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Pada permulaan Surah al-Baqarah, Allah SWT menjelaskan karakteristik manusia dalam tiga macam, yakni; orang yang takwa (muttaqiin), orang yang kufur (kafiriin), dan orang yang bermuka dua (manafiqiin).

Karakter orang bertakwa itu tegas dengan keimanannya yang terlihat dalam sikap dan perbuatan (QS 2: 1-5). Begitu pun orang kafir, mereka tampakkan keingkarannya (QS 2: 6-7). Sementara itu, orang munafik tidak punya pendirian dan bergantung pada kepentingan pragmatis (QS 2: 8-20).

Sebenarnya, orang munafik tersebut bukan hanya mereka yang hidup semasa Nabi SAW. Justru, karakter mereka digambarkan dalam Alquran dan Hadis agar mudah dikenali. Boleh jadi, sifat-sifat kemunafikan itu melekat pada diri kita dalam keseharian, yakni dusta, ingkar janji, dan khianat (HR Bukhari).

Lalu, bagaimana mengenali pribadi seseorang agar kita tidak tertipu oleh kemasan indah yang berisi kepalsuan? Seorang ahli hikmah memberikan lima petuah sebagai indikator kesetiaan, ketulusan, dan kasih sayang.

Pertama, tu’rafu asy-syajaratu bi tsamariha (sebuah pohon itu dikenal dari buahnya). Jika pohon diumpamakan seorang Muslim, kesejatiannya pada perilaku yang baik. Syekh Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tafsir Jaami’ul Bayan mengatakan, pohon yang baik itu akarnya menghunjam ke bumi, batangnya menjulang ke langit, dan berbuah sepanjang musim, yakni kurma (QS Ibrahim [14]: 24).

Kedua, tu’rafu al-mar’atu ‘inda faqri zaujiha (istri setia diketahui ketika suaminya dalam kefakiran). Kesejatian seorang istri belum tampak ketika suami berjaya.

Namun, akan teruji pada saat suami jatuh miskin dan melarat. Istri Nabi Ayyub AS, misalnya, tetap setia mendampingi suaminya walau diterpa penderitaan (QS Shad [38]: 43-44).

Ketiga, yu’rafu ar-rajulu ‘inda maradi zaujatihi (suami sejati akan diketahui ketika istrinya sakit). Kesejatian suami belum tampak jika mendapati istri jelita, sehat, dan berada. Akan tetapi, akan teruji mana kala istrinya terbaring sakit. Nabi SAW berpesan bahwa orang yang paling baik adalah seorang yang paling baik kepada istrinya (HR Ibnu Majah).

Keempat, yu’rafu ash-shadiiqu ‘inda asy-syiddah (teman baik diketahui ketika dalam kesusahan). Pada saat kita berjaya, akan banyak orang yang mengaku teman. Namun, kesejatian teman akan terbukti ketika kita dalam kesusahan. Mereka rela berkorban seperti para sahabat yang membersamai Nabi SAW dalam suka dan duka (HR Ahmad).

Kelima, yu’rafu al-mu`minu ‘inda al-ibtilaai (mukmin sejati akan diketahui ketika ditimpa cobaan). Iman itu bukan sekadar pengakuan, tapi perlu pembuktian. Kesejatian iman akan tampak setelah diterpa ujian (QS al-Ankabut [29]: 2), baik berupa musibah (QS al-Baqarah [2]: 155) ataupun nikmat (QS al-Anbiya`[21]: 35).

Walhasil, kesejatian diri hanya bisa tumbuh di atas keimanan, kesyukuran, kesabaran, dan kerendahan hari. Jika tidak, yang muncul adalah kemunafikan yang dikemas dengan kepura-puraan.

Allahu a’lam bish-shawab.

Baca artikel asli disini!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here